Senin, 05 Juli 2021

PEPAYA EMAS _ CERPEN

 Rita berjalan cepat diikuti teman _ temannya. Mereka ada kumpulan anak _ anak berusia belasan tahun. Mereka berlima. Rita, Reza,Charlote,Hiĺly dan Vione. 

Hari itu hari libur anak _ anak biasa berkumpul. Jalan _ jalan agak sepi banyak kantor yang tutup. Hanya rumah yang ramai karena keluarga lengkap ada dirumah. Mereka melewati rumah Dion. Dion sedang berada dipojok rumah. Langkah mereka  pelan karena ada percakapan yang agak keras terdengar. " Lapar mak, belum makan." "Mak tidak punya beras,sudah habis. Hari ini mak agak sakit kepala pusing jadi mak tidak bisa bantu berjualan dipasar . " Dion , kamu lapar?" "Ndak mak, Dion puasa." Ayah Dion luar kota sudah tiga tahun tidak pulang. Mereka bertiga. Kelima  anak itu menangis mendengar percakapan itu. Mereka kenyang, sementara sahabat mereko Dion kekurangan. Dion tidak pernah mengeluh. Dion baik dan semangat dalam menghadapi hidup. "Hey, Dion ! Ikut kami tidak jalan _ jalan?" Tidak teman _ teman aku mau buat tugas prakarya untuk besok. " Mereka berlalu. Perjalanan anak _ anak masih berlanjut. Tetapi pikiran mereka ke keluarga Dion. Anak _ anak melewati kebun luas milik Haji Iftikhar. Pak Haji sedang panen buah melon, mangga,semangka,anggur juga pepaya. Anak _ anak mendekat. Mereka membantu dikebun. Salah satu anak itu adalah keponakan Haji Iftikhar. Mereka berpencar ke jenis tanaman yang disukai. Ada yang foto_ foto , membantu memasukkan ke keranjang dari pegawai pak Haji dan makan apel dibawah pohon. Sekitar satu jam anak _ anak pamit pulang. Mereka melewati panenan Pepaya. Anak _ anak melihat dikeranjang dan bertanya . " Pak Haji pepaya itu tidak dimasukkan dibak cuci? " "Tidak , itu tidak terpakai, hanya rusak sedikit kulitnya. "Kalian mau?" "Mau pak.""Ambil saja semua." Anak _ anak masing _ masing membawa empat pepaya. Tapi karena besar _ besar mereka mencegat motor Tosa yang biasa lewat mengantar beras. "Nah ,itu kosong!" Pak Lek boleh nunut bawa pepaya ke pasar? " Boleh mau diapakan?" " Mau saya jual Pak Lek,tadi dikasih Pak Haji Iftikhar." Mereka ke pasar menawarkan pepaya itu. Semua laku tiga ratus ribu rupiah. Tidak semua pepaya dijual ada satu mau diberikan ke Dion. Dipasar sambil menunggu Lek Hasyim kulakan beras mereka jajan pecel , bakwan jagung dan kolak pisang. Mereka bawa uang sepuluh ribu tiap kali kumpul _ kumpul. Uang itu untuk makan bersama dan diberikan pada pengamen, pemulung atau peminta _ minta. 

Balik lagi anak _ anak nangkring di Tosa. Mereka membelanjakan seratus lima puluh ribu untuk sembako sisanya diberikan tunai. Mereka juga membelikan es Gempol dan Mie Kopyok untuk Dion dan keluarganya. "Turun pak Lek, suwun." "Ok, segera pulang ya, sudah mendung.""Njih, pak Lek."  

Pintu rumah Dion terbuka Dion masih sholat dhuha dibelakang rumah. Adiknya tidur. Mereka memberi salam. Dion kaget. " Lho kok pada kesini ada apa?" Tidak apa _ apa ini ada sembako dan makanan juga uang untuk kamu dan keluarga tadi kami diberi pepaya Pak Haji Iftikhar lalu kami jual dam belikan ini." Ibu Painem mendengarcerita anak _ anak itu menangis. Dia pulang tadi diminta membantu tetangganya memasak karena akan ada arisan. Pulangnya dibawakan masakan. Anak _ anak diminta makan tapi masih kenyang. Adik Dion Calepo dibangunkan dan makan dengan lahap. Dia belum makan. Tadi pagi hanya makan nasi putih dengan kecap. Anak _ anak menyerahkan Mie Kopyok yang dibeli untuk keluarga Dion. Dion bilang kalau dia puasa. Anak _ anak langsung menutup mulut dan malu. Mereka pamit pulang. Tetapi tiba _ tiba awan gelap menyelimuti , petir menyambar kian kemari. Hujan turun dengan lebatnya selama dua jam. Anak _ anak dibuatkan teh hangat dan makan pepaya yang tadi diberikan. Sudah dikupas oleh Ibu Nem dan tahu bakso mercon. Tiba _ Tiba lima orang tua mereka menjemput. Anak _ anak dan orang tua mereka melambaikan tangan berpamitan. Ditengah jalan mereka ramai bercerita tentang apa yang mereka kerjakan. Orang tua mereka geleng _ geleng kepala dan senang dengan aktifitas anak mereka kali ini. Dalam hati mereka memuji tapi hanya diwujudkan dengan mengelus kepala anak _ anak. 

Dua Minggu kemudian. 

Anak _ anak menjemput Dion akan diajak belajar kelompok. Mereka naik sepeda. Lho kok rumahnya rata dengan tanah. Anak _ anak mengucek _ ucek mata mereka karena ingin meyakinkan apakah mimpi. Mereka berpandangan. " Apakah kita mimpi?" " "Tidak" jawab mereka serentak. Spontan anak _ anak menangis histeris. Tetangga sebelah rumah Dion keluar. "Ada apa anak _anak mengapa kalian menangis?" Dion dimana bulek?" " Ooo Dion pindah ke gang delapan masih dikelurahan ini." Mendengar hal itu anak _ anak ceria seketika. Mereka pamit dan mengucapkan terimakasih atas informasi yang diberikan. 

Anak _ anak tiba digang delapan disitu  ada security dua orang dan pintu masuk cluster perumahan. Mereka berdebat betul tidak gang delapan. Tapi semua memang mendengar kalau Dion pindah digang delapan. Mereka mencari disekeliling jangan _ jangan ada rumah sederhana milik Dion. Karena mencurigakan mereka dipanggil security. "Anak _ anak ada yang bisa bapak bantu?" " Maaf pak , kami mau tanya apakah ada Dion disini? " Seperti apa fotonya?" " Ini pak." "Ooo yaa dia rumahnya paling pojok" Anak dari Bapak  Pram. Adiknya bernama Calepo kan? " " Betul pak" Ayo masuk mana kartu pelajarnya dan isi buku tamu!" "Siap pak." Anak _ anak menuntun sepeda disamping pos dan diantar salah satu petugas jaga. 

Mereka tiba dirumah itu sangat besar rumah lantai tiga dengan kolam ikan besar disamping garasi dan disamping ruang tamu ada kolam renang. Mereka melihat _ lihat kedalam dan berdebar _ debar. Tiba _ tiba Dion dan Calepo berlari memeluk kelima anak _ anak itu. Mereka menangis. Ibu Nem datang tampak bersih dan cantik. Dia memanggil suaminya. Bapak Pram keluar mereka tahu apa yang diceritakan Dion dan keluarga tentang sahabat Dion. Jamuan makan sangat luar biasa disiapkan oleh asisten rumah tangga dirumah Dion. Anak _ anak takjub. Mereka boleh berenang kalau mau. Tapi mereka masih malu. Pak Pram berkata kalau setiap kali makan harus ada pepaya dimeja. Dan didepan rumah juga ditanami pepaya juga ditaman lantai tiga. 

Anak _ anak sangat senang. Pak Pram merantau dan memiliki usaha dibidang souvenir diseluruh Indonesia. Pak Pram menyampaikan kalau kelima  anak _ anak itu akan diberi bea siswa sampai Perguruan Tinggi dimanapun diterima. Sebulan kemudian anak _ anak dan keluarga mereka diajak jalan _ jalan ke berbagai tempat wisata di Indonesia bahkan juga sampai ke mancanegara. Haji Iftikar diberi mobil pick up baru untuk mengangkut  panenan. Dan pemilik Tosa yang mengantar juga belikan pick up. Pak Pram membangun Musholla. 

Dia memiliki kebun pepaya lima hektar anak _ anak dan siapa saja boleh mengambil sepuasnya. Keluarga Dion masih sama sederhana dan baik dalam ucapan dan tindakan. Membumi meski sudah tinggi. 

Kisah yang mengharukan tentang kebaikan. 

Penulis 

Prihariyani,S.Pd.,M.Hum.

SMPN 3 Mranggen

Demak 

Jawa Tengah 

2 komentar:

  1. Keren cerpennya. Kalau bisa kasih jarak supaya tidak terlalu rapat. Sehingga pembaca tidak lelah matanya hehehe

    BalasHapus

LEBARAN _ CERPEN

 Pagi yang cerah tanggal 2 Mei 2022. Hari pertama lebaran tahun 2022. Pandemi covid sudah berlalu. Hari yang dinanti banyak umat muslim di d...